Sarwo tumbuh dalam kesederhanaan. Setelah kehilangan ayahnya, ia belajar memahami arti keluarga, tanggung jawab, kehilangan, dan perjuangan hidup. Di sebuah dusun yang perlahan berubah, tanah bukan sekadar tempat bercocok tanam. Di sanalah kehidupan, kenangan, dan masa depan warga dipertaruhkan. Ketika pembebasan tanah mulai mengancam kehidupan masyarakat, Sarwo memilih untuk bersuara. Namun keberanian selalu memiliki harga. la kemudian belajar bahwa membungkam satu orang dapat membuat banyak orang memilih diam. Bisu bukan hanya kisah tentang Sarwo. Ini adalah cerita tentang ketakutan, keberanian, kehilangan, dan sebuah masyarakat yang perlahan kehilangan suaranya. Sebab, terkadang, yang paling menakutkan bukan ketika seseorang diperintahkan untuk diam, tetapi ketika semua orang akhirnya belajar diam tanpa perlu diperintah. BISU Ketika suara tidak lagi terdengar, siapa yang masih berani berbicara?
Unduh untuk perangkat lain: