Buku ini lahir dari kegelisahan. Kegelisahan yang tidak datang dari ruang kuliah yang sejuk, melainkan dari tanah yang retak di Sumba pada musim kemarau yang kian panjang, dari sungai yang mengering di Timor, dari nelayan di pesisir Flores yang pulang dengan perahu yang nyaris kosong. Di Nusa Tenggara Timur, krisis ekologis bukan lagi ramalan masa depan; ia adalah kenyataan hari ini; kekeringan berkepanjangan, gagal panen, longsor, dan kerusakan ekosistem pesisir yang berjalan beriringan dengan kemiskinan struktural. Bumi, dalam bahasa Ensiklik Laudato Si'', sedang "menjerit" karena segala yang telah kita timpakan padanya.
Unduh untuk perangkat lain: