Setiap tanah memiliki cara tersendiri untuk merawat ingatannya. Bagi masyarakat di sekitar Selat Sape, ingatan itu tidak hanya tertulis dalam prasasti atau dituturkan melalui cerita rakyat, tetapi juga menjelma menjadi helai-helai benang Tembe Me''e Sangiang, dentang kayu para panggeta pembuat kapal, serta bisikan angin yang berhembus di lereng Doro Sangiang. Gunung api purba yang bernapas di tengah lautan itu berdiri bukan sekadar sebagai bentang alam, melainkan sebagai saksi bisu perjalanan waktu sebuah tempat di mana mitos, sejarah, dan keteguhan manusia saling bertautan.
Unduh untuk perangkat lain: