Pendidikan Bahasa Indonesia di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) memainkan peranan penting dalam membentuk individu yang terpelajar, mampu berpikir kritis, dan berkomunikasi dengan baik, baik secara lisan mau pun tulisan. Di antara empat kemampuan berbahasa (mendengarkan, berbicara, membaca, menulis), kemampuan menulis sering dianggap sebagai tolok ukur utama dari kedalaman pemikiran, penguasaan tata bahasa, dan kemampuan dalam mengatur ide secara terstruktur dan kreatif. Kurikulum Merdeka yang saat ini diterapkan di seluruh negara menekankan pentingnya pendekatan pembelajaran berbasis proyek, literasi yang beragam, dan penilaian yang bersifat formatif secara berkelanjutan. Dalam konteks ini, penilaian keterampilan menulis dilihat bukan hanya sebagai ujian akhir, tetapi juga sebagai proses refleksi yang mencatat perkembangan literasi siswa sepanjang waktu. Namun, dalam praktiknya, para guru masih menghadapi banyak tantangan ketika melakukan penilaian menulis yang ideal. Beban untuk mengoreksi banyak tulisan siswa, keterbatasan waktu dalam memberikan umpan balik yang mendalam, serta kesulitan dalam memastikan keobjektifan penilaian terutama ketika kriteria penilaian mencakup hal-hal subjektif seperti keaslian gagasan, kelancaran tulisan, atau daya tarik persuasi sering kali mengakibatkan proses penilaian menjadi kurang maksimal. Di sisi lain, siswa juga sering kehilangan minat untuk menulis karena merasa proses tersebut monoton, umpan balik yang diterima lambat, atau tidak relevan dengan kondisi nyata. Kesenjangan antara tuntutan kurikulum dan situasi di lapangan inilah yang memunculkan kebutuhan akan inovasi dalam metode penilaian.
Unduh untuk perangkat lain: