SAJAK YANG LAHIR DARI GELAS RETAK "Sebab pada setiap retakan, ada jalan bagi cahaya untuk masuk dan membasuh luka." Hidup tidak pernah menjanjikan keutuhan. Seperti gelas yang terjatuh, ada kalanya batin kita retak oleh kerasnya aspal perantauan, tajamnya ketidakadilan sosial, hingga duka mendalam saat kehilangan sosok Amak yang menjadi muara pulang. Melalui 45 sajak pilihan yang ditulis sepanjang tahun 2013 hingga 2021, Djoe HT Bagindo (Hendri Tanjung) mengajak kita menyisiri fragmen-fragmen ingatan antara Pariaman dan jejak langkahnya yang jauh. Dimulai dari kepulan debu pabrik yang mengisap peluh buruh, hingga keheningan sujud syukur di puncak Marapi. Buku ini bukan sekadar kumpulan kata, melainkan sebuah saksi sejarah batin seorang guru dan penyair dalam memulung kembali kepingan-kepingan diri yang pecah. Ia mengingatkan kita bahwa meski gelas itu retak, ia masih bisa menampung doa, dan meski langkah kita tertatih, jalan pulang menuju kasih-Nya selalu terbuka. Sebuah perjalanan dari luka menuju cahaya, dari retakan menuju keikhlasankah di bagi atas tiga bagian yaitu; elegi tanah perantauan, sunyi dibalik lemari kaca, dan membasuh diri dengan cahaya
Unduh untuk perangkat lain: