Buku ini mengangkat kembali peristiwa monumental di sekitar detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada Agustus 1945 dari sudut pandang teater. Cerita bermula dari perjalanan rahasia Sukarno, Mohammad Hatta, dan K.R.T. Radjiman Wediodiningrat memenuhi panggilan Panglima Tertinggi Jepang Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam, di mana mereka mendapat kepastian bahwa Jepang menyerahkan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia. Sekembalinya ke tanah air, situasi politik berjalan sangat cepat dan menegangkan setelah tersiar kabar bahwa Jepang telah menyerah tanpa syarat kepada Sekutu akibat jatuhnya bom atom dan serangan Rusia. Perbedaan pandangan antara golongan tua yang memilih berhati-hati melalui jalur Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dan golongan muda yang mendesak kemerdekaan diproklamasikan seketika tanpa embel-embel Jepang memicu ketegangan hebat. Puncak ketegangan tersebut berujung pada peristiwa "penculikan" Sukarno dan Hatta oleh para pemuda ke Rengasdengklok pada tanggal 16 Agustus 1945 untuk mengamankan kedua pemimpin dari pengaruh Jepang sekaligus mendesak agar proklamasi segera dikumandangkan. Melalui lobi yang digalang oleh Achmad Soebardjo dan jaminan dari Laksamana Muda Tadashi Maeda, Sukarno dan Hatta akhirnya berhasil dijemput kembali ke Jakarta. Naskah drama ini secara apik merangkum perdebatan batin, dinamika revolusi, serta keteguhan para tokoh bangsa dalam merumuskan naskah proklamasi yang akhirnya mengubah sejarah dan melahirkan kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945.
Unduh untuk perangkat lain: