Muhammad Fadhil Alamsyah, seorang insinyur muda dari Tarakan, datang ke Sulawesi Tengah untuk membangun jalan yang diharapkan membawa kemajuan. Di desa Bora, Tanah Kaili, ia bertemu Siti Nurhaliza Mahmud, akademisi dan penjaga adat yang teguh mempertahankan nilai leluhur. Pertemuan mereka bermula dari konflik antara pembangunan dan tradisi, namun perlahan tumbuh menjadi cinta yang diuji oleh adat, keluarga, dan pilihan hidup yang berat. Tanpa restu, mereka menikah dan membangun kehidupan sederhana yang berpijak pada penghormatan budaya dan kemanusiaan. Ketika Siti wafat di puncak pengabdiannya, Fadhil memilih setia pada cinta dan janji yang pernah mereka ikrarkan. Melalui anak-anak mereka, nilai budaya Kaili dan kasih yang diwariskan terus hidup lintas generasi. Rindu Abadi di Tanah Kaili adalah kisah tentang cinta yang tak lekang oleh waktu, pengabdian yang sunyi, dan keyakinan bahwa budaya dan kemanusiaan dapat hidup melampaui kehilangan.
Unduh untuk perangkat lain: