Buku ini lahir dari kegelisahan sekaligus kekaguman. Kegelisahan karena masyarakat kepulauan sering kali berada di pinggir perhatian pembangunan. Letak geografis yang jauh, keterbatasan transportasi, minimnya akses pendidikan, rendahnya taraf ekonomi, serta kuatnya problem sosial-keagamaan menjadikan masyarakat kepulauan menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Namun, di tengah keadaan itulah muncul kekaguman: sebuah pesantren di Sapeken ternyata tidak hanya hadir sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai suluh yang menerangi jalan perubahan masyarakat. Pesantren Persatuan Islam No. 95 Abu Hurairah Sapeken menjadi fokus utama buku ini. Pesantren ini memperlihatkan bahwa dakwah tidak cukup dipahami sebagai ceramah, tabligh, atau penyampaian pesan agama secara lisan semata. Dakwah, dalam pengalaman pesantren ini, bergerak lebih jauh menjadi kerja pendidikan, pembinaan sosial, pemberdayaan Suluh dari Sapeken: Pesantren Persis Abu Hurairah dan Dakwah untuk Perubahan Masyarakat Kepulauan ekonomi, perbaikan moral, penguatan kesadaran politik, kepedulian lingkungan, hingga ikhtiar membangun kualitas hidup masyarakat kepulauan. Dengan demikian, dakwah tidak berhenti sebagai seruan, tetapi menjelma menjadi tindakan.
Unduh untuk perangkat lain: