Krisis kemanusiaan dan krisis ekologi adalah dua wajah dari persoalan yang sama: relasi yang rusak antara manusia, sesama, dan ciptaan. Di tengah meningkatnya radikalisme, polarisasi sosial, eksploitasi alam, dan perubahan iklim global, iman tidak lagi cukup dipahami sebagai pengalaman privat. Iman harus hadir sebagai kekuatan publik yang memulihkan, menyeimbangkan, dan merawat kehidupan. Buku ini menawarkan sebuah sintesis teologis antara moderasi beragama dan ekoteologi sebagai dua napas iman yang tak terpisahkan. Melalui pendekatan teologi kontekstual, dialog antaragama, dan analisis sosiologis, penulis menunjukkan bahwa iman yang moderat secara niscaya melahirkan kesadaran ekologis, dan kepedulian ekologis sejati berakar pada spiritualitas yang seimbang. Dimulai dari genealogi krisis modernitas dan antroposentrisme teologi, buku ini menggali kembali relasi Allah, manusia, dan alam dalam terang Kitab Kejadian. Moderasi beragama dibahas tidak hanya dalam perspektif Alkitab, tetapi juga dalam tradisi Islam (Ummatan Wasathan), Buddha (Jalan Tengah), dan Hindu (Harmoni Kosmis), sehingga membangun jembatan interreligius yang kokoh dalam menghadapi krisis bersama. Melalui dialog dengan pemikiran tokoh-tokoh ekoteologi seperti Jürgen Moltmann, Sallie McFague, dan Leonardo Boff, buku ini memperluas horizon teologi ciptaan sebagai teologi relasional yang menolak dominasi dan eksploitasi. Perspektif interreligius juga diperkaya dengan pembacaan atas dokumen penting seperti Laudato Si'' dan Al-Mizan: Covenant for the Earth sebagai suara lintas iman untuk bumi. Tidak berhenti pada refleksi teologis, buku ini membawa diskursus ekoteologi ke ruang publik dan kebijakan negara, menempatkan agama sebagai agen transformasi sosial. Dengan menyoroti kebijakan moderasi beragama dan gerakan ekologis lintas iman, buku ini menawarkan model teologi publik yang kontekstual bagi Indonesia yang plural. Pada akhirnya, buku ini mengajak pembaca bergerak dari iman pribadi menuju praksis sosial; dari spiritualitas individual menuju solidaritas ekologis; dari doktrin menuju tindakan. Moderasi beragama dan ekoteologi bukanlah dua agenda terpisah, melainkan satu panggilan iman untuk merawat bumi sebagai rumah bersama dan membangun peradaban yang adil, lestari, dan manusiawi.
Unduh untuk perangkat lain: