Asia Tenggara kini menempati posisi strategis dalam arsitektur ekonomi global, didorong oleh lonjakan permintaan mineral kritis untuk transisi energi. Namun, potensi imbal hasil yang tinggi di kawasan ASEAN berjalan seiring dengan risiko struktural yang kompleks, seperti ketidakpastian regulasi, kelemahan institusional, dan dinamika geopolitik. Buku ini menantang pandangan konvensional yang memosisikan Enterprise Risk Management (ERM) sebagai sekadar instrumen kepatuhan. Berbasis analisis empiris yang rigor, buku ini menegaskan bahwa ERM merupakan pendorong nilai perusahaan di pasar negara berkembang, namun hanya ketika disinergikan dengan modal intelektual yang kuat. Keunggulan utama buku ini adalah pengenalan Modified Enterprise Risk Management Index (MERMi), sebuah kerangka inovatif untuk mengukur kematangan risiko perusahaan dalam konteks ekonomi ASEAN. Selain itu, buku ini juga menyajikan Peta Risiko ASEAN yang memetakan karakter strategis Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, dan Filipina. Dilengkapi dengan instrumen diagnostik, cetak biru implementasi strategis, serta perspektif integrasi risiko ESG dan kecerdasan buatan, buku ini ditujukan bagi eksekutif C-suite, investor institusional, dan akademisi yang beroperasi di pasar negara berkembang. Di Asia Tenggara, keunggulan kompetitif tidak ditentukan oleh besarnya peluang, melainkan oleh kecanggihan dalam mengelola risiko.
Unduh untuk perangkat lain: