Masa remaja adalah masa pencarian tentang diri, makna, dan tempat untuk diterima. Namun, tidak semua pencarian berjalan di jalur yang aman. “Jalan yang Pernah Kami Pilih” menghadirkan kesaksian nyata tentang bagaimana pilihan hidup terbentuk sejak usia remaja, ketika kebingungan batin, tekanan lingkungan, dan keterbatasan pendampingan bertemu dalam satu waktu. Buku ini meramu enam kisah personal yang digali melalui wawancara mendalam dengan remaja lelaki yang menjalani pengalaman perilaku seksual berisiko dan terdampak HIV. Cerita-cerita tersebut disajikan secara manusiawi dan reflektif—bukan untuk menghakimi, bukan pula untuk membenarkan—melainkan untuk memahami perjalanan batin di balik pilihan-pilihan yang sering kali lahir dalam sunyi. Empat bab reflektif melengkapi kisah-kisah tersebut dengan pembacaan sosial yang lebih luas. Pembaca diajak menelusuri bagaimana masa remaja menjadi fase rentan, bagaimana lingkungan dan media membentuk rasa diterima, bagaimana agama hadir sebagai nilai yang diyakini sekaligus sumber konflik batin, serta bagaimana diagnosis HIV menjadi titik balik yang memunculkan penyesalan, adaptasi, dan harapan baru. Dengan bahasa yang bersahabat namun tetap berpijak pada integritas ilmiah, buku ini menegaskan bahwa perilaku berisiko tidak lahir dari kehampaan nilai, melainkan dari kebutuhan dasar manusia untuk dimengerti. Pencegahan, karena itu, tidak cukup dengan larangan atau informasi semata, tetapi menuntut kehadiran keluarga, sekolah, dan masyarakat yang empatik dan bertanggung jawab. “Jalan yang Pernah Kami Pilih” ditujukan bagi orang tua, pendidik, mahasiswa, praktisi kesehatan, pembuat kebijakan, dan siapa pun yang peduli pada masa depan remaja. Lebih dari sekadar kumpulan kisah, buku ini adalah ajakan untuk mendengar lebih awal, hadir lebih dekat, dan menjaga agar generasi berikutnya tidak harus belajar dari penyesalan, melainkan dari kehadiran kita hari ini.
Unduh untuk perangkat lain: