Anggaran pendidikan Indonesia terus menggelegar. Angka-angka dibacakan dengan bangga, program diumumkan dengan gegap gempita, dan janji konstitusi dua puluh persen seolah telah ditunaikan. Namun di balik kebisingan itu, ada ironi yang sunyi: guru menghilang dari perhatian negara, empati diadili, dan nurani kian terpinggirkan. Buku Anggaran Menggelegar, Guru Menghilang: Ironi di Negeri Tanpa Nurani adalah kumpulan esai kritis yang menelanjangi paradoks pendidikan Indonesia. Dengan bahasa reflektif dan analisis tajam, Dr. H. Masduki Duryat, M. Pd.I., CFLS mengajak pembaca melihat pendidikan bukan sekadar urusan anggaran, kurikulum, atau administrasi, melainkan soal moral, keberpihakan, dan kemanusiaan. Dari janji 20 persen anggaran pendidikan yang getir, kriminalisasi empati guru, kepalsuan data dan pencitraan kebijakan, hingga program-program populis yang perlu diaudit secara etis, buku ini menunjukkan bagaimana pendidikan kerap dijadikan proyek kekuasaan, bukan proyek peradaban. Negara tampak rajin menghitung angka, tetapi lupa merawat manusia. Ditulis oleh seorang guru besar pendidikan dan politik pendidikan, buku ini tidak menawarkan solusi instan, melainkan undangan untuk berpikir ulang: tentang makna pendidikan, peran guru, dan tanggung jawab negara. Sebab bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu menghabiskan anggaran, tetapi bangsa yang sanggup melindungi orang-orang baiknya. Buku ini penting dibaca oleh pendidik, mahasiswa, pemerhati kebijakan publik, dan siapa pun yang masih percaya bahwa pendidikan seharusnya berangkat dari nurani, bukan sekadar prosedur.
Unduh untuk perangkat lain: