Dyan pernah percaya bahwa hidup yang dijaga dengan baik akan membalasnya dengan ketenangan yang abadi. Sampai satu diagnosis mengubah tubuhnya, dan satu pengkhianatan meruntuhkan rumah yang selama ini ia sebut cinta. Ia mampu bertahan dari luka operasi, kemoterapi, dan rasa sakit yang menggerogoti hari-harinya. Namun tak ada yang mempersiapkannya untuk menghadapi kenyataan bahwa orang yang menggenggam tangannya justru memilih berjalan bersama orang lain. Ketika harapan runtuh satu per satu, Dyan dipaksa berdiri di hadapan kehampaan yang tak menyisakan apa pun selain dirinya sendiri. Di titik paling sunyi, ia menemukan sesuatu yang tak pernah diajarkan oleh kemenangan: keberanian untuk melepaskan. Sebab terkadang, tangan yang dikosongkan bukan sedang dirampas, melainkan sedang dipersiapkan untuk menerima kehidupan yang benar-benar layak diperjuangkan.
Unduh untuk perangkat lain: