Bagaimana jika laut tidak pernah berubah yang berubah justru cara manusia memahaminya? Salman pulang ke Tilambu setelah empat tahun belajar di kota dengan satu keyakinan: masa depan nelayan dapat dibangun melalui teknologi. Di tangannya, nelaya-ai mampu membaca data, memetakan pergerakan ikan, dan menawarkan harapan baru bagi kehidupan yang selama ini bergantung pada firasat dan pengalaman turun-temurun. Namun, Tilambu bukan sekadar titik di peta. Di sana, laut adalah warisan, ingatan, dan bagian dari jati diri yang tak mudah digantikan. Davi, sahabat masa kecil Salman, memilih tetap setia pada cara lama. Ia membaca awan, mengenali arus, dan mendengar bahasa laut sebagaimana yang diajarkan ayahnya. Bagi Davi, menerima teknologi tanpa memahami ruh kehidupan nelayan sama saja dengan kehilangan akar. Di tengah keduanya, Mutia menjaga ruang agar perbedaan tidak berubah menjadi perpecahan, sebab masa depan tidak selalu lahir dari kemenangan salah satu pihak. Ketika kapal-kapal besar dari luar datang dan menguras zona tangkap mereka, Tilambu dipaksa menghadapi ancaman yang jauh lebih nyata daripada perdebatan tentang tradisi dan kemajuan. Tangkapan menurun, jala rusak, dan suara para nelayan nyaris tenggelam di tengah kepentingan yang lebih besar. Dalam keadaan itulah, data dan pengalaman, angka dan naluri, perlahan belajar berjalan berdampingan.
Unduh untuk perangkat lain: