Buku ini adalah sebuah ziarah intelektual yang mengajak kita menelusuri bagaimana pesantren, dengan segala tradisi dan kearifan lokalnya, telah lama mempraktikkan multikulturalisme jauh sebelum kata itu populer dalam wacana Barat. Di sini, penulis dengan apik menghidupkan kembali warisan para ilmuwan Muslim klasik dari Al-Ghazali yang mengajarkan bahwa akhlak adalah inti pendidikan, Ibn Khaldun yang melihat peradaban tumbuh dari interaksi sosial yang beragam, hingga Al-Syathibi yang meletakkan keadilan sebagai ruh syariat. Mereka bukan sekadar nama dalam manuskrip; mereka adalah ruh yang mengaliri tradisi pesantren dalam menyikapi perbedaan dengan hikmah, bukan dengan kebencian. Saudara A. Samsul Maโarif yang merupakan santri sekaligus intelektual berusaha merangkai benang merah antara wahyu dan realitas, antara rahmatan lil โ?lam?n dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
Unduh untuk perangkat lain: