Berangkat dari kegelisahan yang tampak sederhana tetapi sesungguhnya sangat mendasar, buku ini mempertanyakan mengapa nalar umat Islam kerap lebih tunduk pada teks daripada peka terhadap realitas sosial yang terus berubah. Melalui pembacaan kritis terhadap pemikiran Al-Jabiri dan Arkoun, buku ini mengajak pembaca memahami bahwa problem utama umat Islam bukan terletak pada kekurangan ajaran agama, melainkan pada cara memahami dan memperlakukan warisan pemikiran Islam itu sendiri. Keduanya sama-sama melihat bahwa teks suci sering kali ditempatkan secara beku dan final, sehingga menutup kemungkinan lahirnya pembacaan baru yang lebih relevan dengan tantangan zaman. Dari sinilah muncul kebutuhan mendesak untuk membangun kembali tradisi berpikir Islam yang lebih kritis, terbuka, dan rasional. Melalui proyek besar yang dikenal sebagai “Kritik Nalar Arab”, Al-Jabiri membedah struktur berpikir Arab-Islam yang selama berabad-abad membentuk pola pengetahuan umat Islam. Ia menunjukkan bagaimana tradisi intelektual klasik sering kali berubah menjadi otoritas yang tidak boleh dipertanyakan, sehingga membatasi kebebasan berpikir dan kreativitas intelektual. Bagi Al-Jabiri, pembaruan Islam tidak cukup dilakukan melalui slogan modernisasi, tetapi harus dimulai dari rekonstruksi paradigma berpikir yang melandasi cara umat memahami teks, sejarah, dan realitas sosial. Dengan pendekatan rasional dan historis, ia berupaya membebaskan nalar Islam dari dominasi dogma yang membeku agar agama kembali mampu berdialog dengan perubahan zaman tanpa kehilangan fondasi etik dan spiritualnya.
Unduh untuk perangkat lain: