Dalam kehidupan masyarakat yang semakin terbuka, perkembangan teknologi informasi dan media sosial telah menghadirkan peluang sekaligus tantangan. Di satu sisi, akses terhadap pengetahuan menjadi semakin luas, tetapi di sisi lain penyebaran informasi yang tidak terverifikasi, ujaran kebencian, serta narasi yang memecah belah dapat memengaruhi cara pandang generasi muda terhadap keberagaman. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa toleransi tidak cukup dipahami sebagai konsep normatif, melainkan harus dibangun melalui proses pendidikan yang sistematis, berkelanjutan, dan melibatkan seluruh unsur lingkungan kehidupan peserta didik. Buku ini menawarkan perspektif bahwa pendidikan toleransi tidak dapat dibebankan hanya kepada sekolah atau lembaga pendidikan formal. Pendidikan toleransi memerlukan pendekatan berbasis ekosistem, yaitu suatu pendekatan yang memandang pembentukan karakter sebagai hasil interaksi berbagai aktor dan lingkungan, meliputi keluarga, sekolah, perguruan tinggi, komunitas, organisasi kemasyarakatan, media, serta kebijakan publik
Unduh untuk perangkat lain: