Imam Al Ghazali mengibaratkan kita yang menempuh kehidupan di dunia ini seperti orang yang berperahu mengarungi samudera luas yang tidak kelihatan tepinya. Pantai pertama yang ditinggalkan adalah rahim kandungan bunda, sedang pantai terakhir tempat kita harus berlabuh adalah liang lahat yang sudah menunggu. Diantara masa-masa itulah kita berlayar dipukul dan dihempas gelombang dan badai. Kadangkadang harus "berpirau melawan arus", mendayung bahtera yang dibuaikan ombak yang terus menerjang dan memukul silih berganti. Namun bahtera itu harus terus kita dayung, berjuang agar tidak tenggelam oleh pergantian musim. Hari, pekan, bulan dan tahun adalah laksana tempat singgah sementara beristirahat sejenak, untuk seterusnya berjalan melalui tarikan demi tarikan nafas kehidupan, dan semakin hari semakin dekat dengan pantai tujuan. Itulah kampung akhirat yang luasnya melebihi langit dan bumi beserta segala isinya
Unduh untuk perangkat lain: