Di usia muda, banyak aktivis kampus hidup dalam semangat pengabdian. Mereka percaya bahwa ilmu dapat mengubah masyarakat. Mereka ingin memberi dampak. Mereka ingin hidup yang berarti. Namun waktu berjalan. Tagihan datang. Harapan orang tua semakin nyata. Teman-teman mulai berbicara tentang gaji, jabatan, bisnis, dan masa depan yang "aman". Lalu muncul pertanyaan yang sering hadir setelah rapat organisasi yang melelahkan: "Aku ini sebenarnya sedang membangun masa depan... atau sedang menyia-nyiakan waktu?" Buku ini mencoba menemani kegelisahan itu. Melalui kisah-kisah sederhana, pengalaman pribadi, refleksi kehidupan, serta cerita para sahabat dan tokoh di sekitar penulis, buku ini mengajak pembaca memahami bahwa hidup bukan sekadar memilih jalan tercepat menuju kenyamanan.
Unduh untuk perangkat lain: