Buku ini lahir dari sebuah refleksi mendalam mengenai posisi analis intelijen dalam ekosistem keamanan nasional. Selama beberapa dekade, analisis intelijen sering kali dianggap sebagai sebuah “seni” (craft) yang sangat bergantung pada intuisi, pengalaman lapangan, dan kemampuan insting individu seorang analis. Namun, sejarah telah memberikan pelajaran pahit melalui berbagai kegagalan intelijen monumental—mulai dari peristiwa Pearl Harbor, tragedi 11 September, hingga estimasi keliru mengenai Senjata Pemusnah Massal (WMD) di Irak. Evaluasi atas kegagalan-kegagalan tersebut mengungkap satu pola yang konsisten: masalah utama sering kali bukan terletak pada kurangnya informasi, melainkan pada kelemahan metode analisis dan dominasi bias kognitif yang tidak disadari. Melalui buku ini, saya ingin mengajak para pembaca, akademisi, dan praktisi intelijen untuk mendalami urgensi transformasi analisis intelijen dari sekadar “seni” menjadi sebuah “sains” yang disiplin, transparan, dan akuntabel. Integrasi prinsip-prinsip ilmiah ke dalam intelijen bukan berarti meniadakan kreativitas atau intuisi manusia, melainkan memberikan kerangka kerja sistematis melalui metode inkuiri yang ketat guna meminimalisir kesalahan sistematis dalam berpikir.
Unduh untuk perangkat lain: