Apakah pertanian hanya akan terus terdesak oleh perubahan iklim, alih fungsi lahan, dan krisis regenerasi petani? Ataukah justru menjadi kunci masa depan pembangunan yang lebih adil dan berkelanjutan? Buku Agrowisata Berkelanjutan mengajak pembaca meninjau ulang cara kita memandang pertanian dan pariwisata—dua sektor yang selama ini kerap dipisahkan, bahkan dipertentangkan. Di tengah kejenuhan pariwisata massal dan meningkatnya kesadaran terhadap keberlanjutan, agrowisata muncul sebagai peluang strategis. Namun, peluang ini hanya bermakna jika dikelola dengan visi jangka panjang dan keberpihakan pada masyarakat serta lingkungan. Buku ini menegaskan bahwa agrowisata bukan sekadar produk wisata, melainkan model pembangunan pedesaan berbasis sistem sosial–ekologis. Disusun dengan pendekatan integratif dan berbasis pengalaman lapangan, buku ini membahas konsep, dinamika, serta praktik agrowisata dari tingkat global hingga konteks Indonesia. Lanskap pertanian, pengetahuan lokal, dan aktivitas bertani diposisikan sebagai aset utama yang mampu menciptakan nilai ekonomi tanpa mengorbankan fungsi ekologis dan identitas budaya. Studi kasus, termasuk pengelolaan lanskap Subak di Bali, memperlihatkan bagaimana agrowisata dapat menjadi ruang kolaborasi sekaligus arena konflik yang perlu dikelola secara bijaksana. Lebih dari sekadar bacaan akademik, buku ini mengulas isu tata kelola, partisipasi masyarakat, inovasi teknologi, serta strategi pemasaran dan branding berkelanjutan yang relevan bagi praktik nyata.
Unduh untuk perangkat lain: