Salah satu penyebab utama trauma sains ini adalah metode pengajaran yang cenderung rigid dan textbook-oriented. Guru seringkali lebih berfokus pada penyampaian teori dan fakta tanpa memberikan konteks nyata atau kesempatan untuk eksplorasi langsung. Buku pelajaran menjadi satusatunya sumber pengetahuan, dan ujian menjadi satusatunya tolak ukur keberhasilan. Akibatnya, siswa merasa seperti robot yang harus menghafal dan mereproduksi informasi, bukan individu yang diajak berpikir kritis dan bereksperimen. Ditambah lagi, kurangnya relevansi materi sains dengan kehidupan sehari-hari siswa membuat pelajaran terasa abstrak dan tidak berarti. Mengapa harus belajar tentang fotosintesis jika tidak ada kaitannya dengan tumbuhan di halaman rumah? Apa pentingnya gaya gravitasi jika tidak dijelaskan bagaimana hal itu memengaruhi setiap langkah kita? Ketika sains tidak bisa dikaitkan dengan pengalaman pribadi, ia akan kehilangan daya tariknya dan menjadi sekadar teori yang harus dihafal.
Unduh untuk perangkat lain: