Tidak semua luka sembuh oleh waktu. Ada luka yang tak berdarah tapi terus nyeri, menetap dalam diam, dan mengubah cara kita melihat hidup. Tubuhku di Sini, Tapi Jiwaku Masih di Hari Itu adalah kisah tentang mereka yang pernah patah, tapi tetap dipaksa berdiri. Tentang trauma yang tak terlihat oleh mata, tapi terasa nyata di dada. Tentang hari-hari yang dijalani dengan wajah tenang, namun jiwa di dalamnya terus berteriak. Ini bukan kisah penyembuhan yang indah. Ini tentang bagaimana seseorang belajar menerima bahwa tidak semua luka bisa hilang-tetapi bisa ditemani, bisa dirangkul, dan bisa dipeluk dalam sujud. Untuk kamu yang merasa takut tanpa sebab, menangis tanpa alasan, atau merasa hancur tapi tak tahu kepada siapa harus berkata, buku ini hadir untuk mengingatkan: Kamu tidak sendiri. Allah tidak pernah benar-benar pergi. Tidak semua luka sembuh dengan waktu. Ada yang diam-diam menetap, mengendap, dan hidup di dalam diri-seperti trauma yang enggan pergi. Buku ini adalah perjalanan batin seseorang yang pernah "hancur", namun dipaksa terlihat utuh. Tentang ketakutan tanpa sebab, tangisan tiba-tiba, dan rasa salah yang terus melekat. Tentang tubuh yang menjalani hari, tapi jiwanya tertinggal di masa lalu. Ini bukan buku yang menawarkan solusi instan. Ini adalah teman bagi kamu yang juga sedang merasa tidak baik-baik saja. Sebab dalam luka, ada Allah yang tetap setia menunggu untuk dijemput.
Unduh untuk perangkat lain: