Bagaimana jika Tuhan mempertemukan dua manusia yang tidak ditakdirkan untuk saling memiliki? Alif adalah seorang hafidz muda lulusan Timur Tengah, putra seorang kiai yang pulang ke tanah kelahirannya untuk mengabdi di pesantren di kaki gunung. Hidupnya dibangun oleh Al-Qur''''an, tradisi pesantren, dan keyakinan bahwa cinta semestinya membawa manusia semakin dekat kepada Tuhan. Nara datang dari Indonesia Timur. Setelah menempuh pendidikan teologi di Jawa, a memilih jalan hidup sebagai biarawati Katolik dan mengabdikan dirinya di sebuah biara kecil di kaki gunung, la percaya bahwa panggilan Tuhan tidak selalu hadir dalam bentuk yang mudah dipahami manusia Mereka pertemu bukan dalam suasana romants, melainkan ketika sebuah bencana memaksa mereka menyelamatkan anak-anak dan warga yang terjebak banjir. Dari pertengkaran, tumbuh rasa hormat. Dari rasa hormat, lahir kepedulian. Dan dari kepedulian, perlahan tumbuh sesuatu yang paling mereka takuti: cinta. Namun Alif dan Nara tidak sekadar berbeda latar belakang. Mereka berbeda dalam cara berdoa, cara memahami Tuhan, dan jalan iman yang mereka yakini. Ketika keluarga, agama, pengabdian, dan masa lalu mulai menuntut pilihan, keduanya harus berhadapan dengan pertanyaan yang jauh lebih sulit daripada "Apakah kita saling mencintai?" Pertanyaannya adalah: "Jika cinta membuatmu harus memilih antara memilikinya dan tetap setia kepada Tuhan, apa yang akan kau pilih?" Di antara azan yang memanggil Alif dan lonceng yang memanggil Nara mereka belajar bahwa tidak semua cinta harus berakhir di pelaminan. Ada cinta yang justru menemukan maknanya ketika dua manusia berani melepaskan satu sama lain tanpa mengkhianati keyakinannya. Sebab mungkin, ada cinta yang tidak diciptakan untuk menjadi milik kita. Melainkan untuk mengajarkan kita bagaimana menjadi manusia yang lebih baik. "Tidak semua cinta ditakdirkan untuk menjadi kita. Sebagian ditakdirkan untuk menjadikan kita manusia yang lebih baik."
Unduh untuk perangkat lain: