Sastra tidak pernah otonom dan statis, melainkan merefleksikan hal yang berkaitan dengan kondisi sosial, teknologi, dan budaya. Perubahan medium komunikasi secara historis senantiasa memengaruhi cara manusia memproduksi, mendistribusikan, dan memaknai teks sastra. Sastra hadir sebagai praktik performatif yang bergantung pada ingatan kolektif dan konteks sosial. Memasuki era manuskrip dan budaya cetak, sastra mengalami institusionalisasi dalam bentuk teks tertulis yang relatif stabil dan dapat direproduksi (Ryan, 1999, hlm. 1-2).
Unduh untuk perangkat lain: