Pembangunan stasiun kereta api yang dicanangkan oleh Hindia Belanda adalah proses dari sebuah modernisasi bidang infrastruktur terutama transportasi yang kaitannya sangat erat dengan kepentingan ekonomi zaman kolonial. Mulai abad ke-19, pemerintah kolonial Belanda menyadari jika pentingnya keberadaan sistem transportasi yang efisien dalam menunjang distribusi hasil 2 Mengurai Sejarah Stasiun Bringin produksi dari daerah pedalaman menuju pelabuhan1. Sebelum itu sistem transportasi yang digunakan masih bergantung pada jalur darat yang kurang efisien dan memakan banyak waktu serta biaya seperti transportasi tradisional (gerobak) atau transportasi yang menggantungkan aliran sungai2. Hal tersebut tidak dapat memenuhi kebutuhan ekspor dalam skala yang besar. Perkembangan ekonomi di masa kolonial berkembang pesat pasca diberlakukannya Agrarische Wet tahun 1870 yang menjadi tonggak awal dalam transformasi maupun modernisasi sistem ekonomi di wilayah Hindia Belanda. Peraturan dalam undang-undang tersebut membuka banyak kesempatan bagi pengusaha asing terutama pihak swasta Eropa untuk menanamkan modalnya di sektor perkebunan. Dalam kebijakan ini pemerintah kolonial Belanda memberikan adanya hak erfpacht yaitu hak guna usaha jangka panjang kepada beberapa perusahaan swasta dalam mengelola lahan di wilayah jajahan Hindia Belanda. Akibat dari penerapan kebijakan tersebut adalah terjadi ekspansi secara besar-besaran kepada perkebunan komoditas ekspor seperti gula di Jawa, kopi di Priangan maupun tembakau di Sumatera Timur3. Ekspansi besar-besaran terhadap perkebunan tersebut secara tidak langsung menciptakan kebutuhan sistem transportasi yang hemat pengeluaran, hemat waktu, serta hemat tenaga dalam pendistribusiannya menuju wilayah pelabuhan. Dengan adanya keterdesakan kebutuhan inilah kereta api menjadi solusi dan ide besar dalam mempercepat waktu tempuh dan mampu mengangkut barang dalam jumlah besar dibandingkan moda transportasi tradisional sebelumnya4.
Unduh untuk perangkat lain: