Tawuran sebagai bentuk konflik terbuka antar kelompok sering kali dipicu oleh kesalahpahaman, provokasi, rivalitas identitas, hingga penyebaran informasi yang tidak terverifikasi melalui media sosial. Dalam konteks ini, komunikasi memegang peranan sentral. Ketika komunikasi berjalan tidak efektif, pesan yang disampaikan dapat disalahartikan, emosi kolektif meningkat, dan konflik berkembang menjadi krisis sosial. Oleh karena itu, pendekatan komunikasi krisis menjadi sangat relevan untuk dianalisis sebagai strategi pencegahan (mitigasi) sekaligus penanganan konflik tawuran. Di Indonesia, tawuran pelajar telah menjadi isu yang mendapat perhatian luas dari berbagai pihak, termasuk institusi pendidikan, aparat keamanan, keluarga, serta masyarakat. Dalam konteks kelembagaan, upaya pencegahan dan penanganan konflik sering melibatkan koordinasi antara sekolah, kepolisian seperti Kepolisian Negara Republik Indonesia, serta dinas pendidikan. Namun demikian, koordinasi tersebut sering kali bersifat reaktif, dilakukan setelah konflik terjadi, bukan berbasis mitigasi yang sistematis dan komunikatif.
Unduh untuk perangkat lain: