Bara percaya bahwa membaca adalah cara terbaik untuk mengenal dunia. Sebelum mengajar sebagai guru honorer, ia juga membiayai kuliahnya dengan berjualan gorengan. Di sela-sela itu, ia menghabiskan banyak waktunya bersama buku. Baginya, setiap halaman selalu menyimpan jawaban. Hingga sebuah perjalanan study tour menuju Yogyakarta mengajarkannya sesuatu yang tak pernah ia temukan di rak-rak perpustakaan. Dari Cirebon, Demak, Prambanan, hingga Candimas, Bara bertemu orang-orang dengan kisah yang berbeda. Pertemuan dengan pedagang kecil, peziarah, teman seperjalanan, juga Nazmi, seorang perempuan yang perlahan mengisi ruang-ruang sunyi di dalam pikirannya. Melalui percakapan-percakapan sederhana, ia mulai menyadari bahwa manusia pun dapat dibaca. Terkadang, satu pengalaman mampu menjelaskan apa yang tak selesai diterangkan oleh berpuluh-puluh buku. Bara Jogja adalah novel tentang perjalanan, persahabatan, pendidikan, dan cinta yang tumbuh tanpa banyak suara. Sebuah kisah yang mengingatkan bahwa membaca membuat kita mengenal dunia, sementara menemui manusia mengajarkan cara memahaminya.
Unduh untuk perangkat lain: