Buku ini dengan tajam mengulas dinamika pemaknaan masyarakat terhadap ronggeng, yang tercermin dalam berbagai karya sastra Indonesia, baik puisi, prosa fiksi, maupun film. Ronggeng, yang awalnya memiliki dimensi sakral, secara perlahan berubah menjadi komoditas yang justru meminggirkan perempuan. Yang lebih menarik, penulis berhasil mengurai fenomena pergeseran makna ini dengan pendekatan kritis yang melampaui teks-teks sastra yang ada, termasuk novel, puisi, dan film.
Buku "Ronggeng Perempuan dalam Kesusastraan Indonesia" oleh Yulianeta adalah hasil penelitian mendalam tentang peran perempuan dalam seni tradisional ronggeng dan tari tayub di Indonesia. Buku ini menggali sejarah dan representasi perempuan dalam karya sastra, terutama melalui tiga novel yang menjadi fokus "Ronggeng Dukuh Paruk" (1982) oleh Budi Anoegrajekti, "Sihir Pambayun" (2014) oleh Joko Santosa, dan penelitian tentang tradisi ronggeng di Brunei. Buku ini mengilustrasikan perlawanan budaya yang dilakukan perempuan dalam tradisi ronggeng, seperti tokoh Srintil dalam "Ronggeng Dukuh Paruk" yang menentukan pilihan untuk menyerahkan virginitasnya kepada cintanya, Rasus, sebagai perempuan yang ingin hidup seperti perempuan pada umumnya. Sementara itu, tokoh Putri Pambayun dalam "Sihir Pambayun" menggunakan seni tayub untuk memikat Pangeran Wanabaya, yang sejalan dengan memori kolektif masyarakat Yogyakarta tentang awal mula kerajaan Mataram. Pada bagian akhir, buku ini membahas tentang ronggeng di Brunei, yang umumnya dipahami sebagai tarian namun memiliki makna yang lebih luas. Studi ini menawarkan perspektif baru tentang dinamika peran perempuan dalam masyarakat melalui seni tradisional, membuka wawasan tentang konstruksi sosial dan budaya dalam representasi perempuan dalam sejarah.
Unduh untuk perangkat lain: