ilau hanya bisa mematung di tempatnya berdiri. Hujan lebat sekali tidak kunjung reda. Sebagian gubuk kayu itu basah karena percikan air hujan yang jatuh bertabrakan dengan tanah di dekatnya. Kilau selalu suka berlama-lama memelototi butiran air yang ditumpahkan langit ke atas bumi. Tapi matanya kali ini tidak tertuju pada hujan, ia justru memandangi bahu lebar yang hendak pergi menjauh dari dirinya. Menebas hujan begitu saja. Ia tahu benar hari ini akan datang. Tapi ia tidak menduga kalau hari yang buruk bisa datang ketika cuaca sedang baik. Kilau tidak bisa protes, sebab semua memang salahnya. Beberapa kebodohan memang selalu terdengar menarik untuk dilakukan. Dan Kilau adalah satu dari sekian banyak orang yang dengan lugu mempersilakan diri, terjembab ke dalam kubangan kebodohan itu
Unduh untuk perangkat lain: