Buku “Guru yang Tak Tergantikan” menyajikan informasi bahwa di tengah disrupsi oleh Kecerdasan Buatan (AI), peran guru manusia mengalami elevasi urgensi radikal, mematahkan mitos bahwa AI akan menggantikan pendidik karena mesin hanya menawarkan Otomatisasi Kognitif dan menciptakan “Paradoks Efisiensi AI” atau Jurang Kemanusiaan. Untuk menjadi tak tergantikan, guru harus menguasai Lima Keahlian Manusiawi yang eksklusif: Empati Radikal (melalui Resonansi Limbik, bukan Simulasi Sentimen AI) , Kreativitas Situasional (mengubah kekacauan/gangguan menjadi peluang pedagogis, di mana AI justru error) , Penilaian Etis (menjadi Human-in-the-Loop menggunakan Etika Kebajikan, mengintervensi keputusan otomatis yang kaku) , Navigasi Sosial Kompleks (membaca isyarat non-verbal di Zona Buta AI dan memimpin Mediasi Restoratif) , dan Mentoring Karakter (menjadi teladan hidup sesuai filosofi Ki Hajar Dewantara, Ing Ngarso Sung Tuladha). Strategi utamanya adalah Integrasi Humanis sebagai Orkestrator High-Tech, High-Touch, yaitu dengan mendelegasikan tugas LOTS (seperti Mengingat) kepada AI, sesuai Taksonomi Bloom yang Direvisi, untuk membebaskan waktu guru fokus pada HOTS (Mengevaluasi Etis, Mencipta) dan mencapai Skenario “Hibrida Humanis” yang menyeimbangkan teknologi dan sentralitas manusia.
Unduh untuk perangkat lain: