Fenomenologi, sebagai salah satu pendekatan filosofis dan metodologis, telah lama menjadi ruang diskusi yang luas dalam dunia ilmu pengetahuan. Di tengah perkembangan pemikiran modern yang kerap mengedepankan hal-hal empiris, fenomenologi hadir dengan tawaran berbeda: kembali pada pengalaman, kesadaran, dan makna yang terkandung di balik setiap gejala kehidupan. Ia bukan sekadar wacana abstrak, melainkan juga jalan untuk memahami realitas yang dialami manusia, baik dalam dimensi sosial, budaya, agama, maupun pendidikan.
### Alhamdulillah, akhirnya penulisan Fenomenologi Pesantren ini dapat diselesaikan meskipun mengalami keterlambatan sekitar dua minggu dari waktu yang direncanakan. Dengan terselesaikan buku ini, beban-beban yang penulis rasakan mulai menguap sehingga bisa segera berpindah untuk menyusun naskah buku berikutnya, Bahasa Pesantren. Penyusunan naskah buku ini termotivasi oleh pengalaman penulis dalam membimbing maupun menguji disertasi yang sering kali menggunakan pendekatan fenomenologis dengan pemahaman yang masih jauh dari maksud hakikinya. Penyusun disertasi biasanya hanya memahami fenomena-fenomena yang terjadi sehingga diteliti, padahal objek penelitian dalam penelitian kualitatif adalah fenomena-fenomena penelitian, sedang dalam penelitian kuantitatif disebut variabel penelitian. Konsekuensinya, apapun pendekatan yang digunakan, dari 25 macam fenomenologi, kesulitan ini diperparah dengan kenyataan bahwa banyak sekali konsep atau aliran fenomenologi yang bertabrakan satu sama lainnya. Kesulitan ini ditambah dengan kenyataan para pakar maupun penulis fenomenologi yang mengungkapkan pandangannya tanpa menyebut mereka berasal dari aliran fenomenologi yang mana. Rumpun kesulitan kedua menyangkut posisi fenomenologi. Fenomenologi memiliki berbagai posisi, baik sebagai filsafat, ilmu pengetahuan, metodologi, pendekatan, metode, maupun sikap berpikir filosofis. Perbedaan posisi ini berimplikasi pada perbedaan parameter, kriteria, peran, fungsi, orientasi, tujuan, dan ruang lingkup. Sebagai contoh, perbedaan metodologi dengan metode. Meskipun metode adalah bagian dari pembahasan metodologi, penerapannya berbeda. Metodologi mencerminkan das sollen—sesuatu yang seharusnya dan bersifat ajakan, sedangkan metode mencerminkan das sein—sesuatu yang senyatanya, bersifat. Oleh karena itu, penulis mendalami fenomenologi sebagai sebuah kajian yang diimplementasikan di pesantren hingga dituangkan dalam judul buku ini, Fenomenologi Pesantren. Pesantren sebagai objek kajian ini lantaran menyimpan seribu satu fenomena penelitian yang sangat menarik. Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang memiliki daya tarik tertinggi untuk kegiatan penelitian dibandingkan dengan lembaga-lembaga pendidikan Islam lainnya. Akhirnya, penulis mengumpulkan seluruh literatur yang bisa penulis jangkau dan terkait fenomenologi pesantren. Setelah penulis dalami, penulis kaget dengan pernyataan tokoh fenomenologi terkemuka, Edmund Husserl, bahwa fenomenologi tidak terhitung jumlahnya. Begitu membaca pernyataan Husserl ini, penulis langsung menyimpulkan ini rumpun kesulitan pertama yang penulis hadapi. Ternyata benar, dengan sambil lalu saja penulis menemukan lebih banyak fenomenologi pesantren.
Unduh untuk perangkat lain: