Di Negeri Sholawat, Gorontalo; Ramadhan senantiasa disambut dengan kebersamaan santap sahur (huwi lo yimelu) dengan kemewahan kuliner berbahan ayam kampung. Hari demi hari Ramadhan, masjid menjadi pusat kehidupan. Buka puasa bersama digelar dan aroma bubur ayam khas kampung seperti memaksa anak-anak menunggu beduk berbuka. Memasuki pertengahan Ramadhan, momen mobangu dulota (duet azan) pada malam qunut hadir sebagai penanda bahwa bulan suci telah mencapai separuh perjalanan. Pada saat yang sama, umat Islam mulai menunaikan kewajiban sosial dengan moluhuta pitara (membayar zakat fitrah). Menjelang akhir Ramadhan, negeri sholawat disinari gemerlap cahaya tumbilotohe. Dahulu, lampu-lampu itu bermakna penerang jalan menuju masjid. Kini, cahaya lampu bertransformasi menjadi pesona dunia yang mengosongkan isi masjid. Tafsir baru pun perlu dihadirkan, agar cahaya lampu tidak menjadi nyala api yang justru melalaikan shalat. Puncak tradisi pada malam takbiran (mohiyonga hulalo). Takbir dan tabuhan beduk bersahut-sahutan dari masjid hingga ke jalanan sebagai penanda Ramadhan akan pergi. Demikianlah, Tradisi Ramadhan di Negeri Sholawat menampilkan potret Islam Nusantara yang hangat, religius dan sarat makna sosial.
Unduh untuk perangkat lain: