Buku yang berjudul Demokrasi Terbelah: Politik Identitas Berbasis Agama dan Budaya di Media Sosial lahir dari kegelisahan intelektual atas dinamika demokrasi kontemporer yang semakin diwarnai oleh polarisasi, fragmentasi sosial, serta menguatnya politik identitas di ruang digital. Perkembangan media sosial sebagai ruang publik baru telah mengubah lanskap komunikasi politik secara signifikan. Platform digital tidak lagi sekadar menjadi sarana berbagi informasi, tetapi telah menjelma menjadi arena pertarungan wacana, pembentukan opini, sekaligus mobilisasi massa. Dalam konteks ini, identitas agama dan budaya kerap dijadikan instrumen politik untuk memperkuat dukungan, membangun loyalitas kelompok, bahkan menegaskan batas antara “kami” dan “mereka”. Akibatnya, demokrasi yang semestinya menjadi ruang dialog yang inklusif justru berpotensi mengalami keterbelahan yang tajam.
### Buku "Demokrasi Terbelah Politik Identitas Berbasis Agama dan Budaya di Media Sosial" menjelajahi dinamika demokrasi digital di era kontemporer Indonesia. Buku ini dipandu oleh tiga penulis utama, Dr. Baharuddin Siagian, Prof. Dr. Hasan Sazali, dan Prof. Dr. Anang Anas Azhar, dengan diterbitkan oleh CV. Literasi Nusantara Abadi. Buku ini membagi isi dalam beberapa bab penting. Bab pertama, "Gambaran Umum," memberikan latar belakang demografis Indonesia dan pentingnya analisis politik identitas dalam konteks demografis yang heterogen. Bab kedua, "Komunikasi Politik," mendalamkan pengertian dan implikasi politik identitas berbasis agama dan budaya, serta menggali bagaimana identitas ini dipromosikan dan diterima dalam masyarakat. Bab ketiga, "Media Sosial," menggambarkan peran dan ciri-ciri media sosial dalam menyebarkan komunikasi politik identitas. Buku ini juga merujuk pada literasi digital, etika bermedia, dan penguatan nilai-nilai demokrasi yang berkeadaban, yang semuanya diperlukan untuk memahami dinamika demokrasi di era digital. Bab terakhir, "Konten Media Sosial (Bullying dan Hate Speech)," menganalisis dampak negatif seperti bullying dan hate speech dalam perspektif teori dramaturgi, teori lobi–negosiasi, dan teori pencitraan, yang mungkin memicu konflik horizontal di masyarakat. Buku ini diharapkan dapat memberikan kontribusi akademik dan refleksi bagi mahasiswa, peneliti, praktisi politik, dan masyarakat luas, serta dapat menjadi bagian dari upaya bersama dalam merawat demokrasi yang inklusif, adil, dan bermartabat di tengah kemajemukan bangsa. Buku ini terbit pada April 2026 dengan ukuran 15.5 cm x 23 cm, berisi 228 halaman, dan dilindungi oleh hak cipta.
Unduh untuk perangkat lain: