Buku ini berangkat dari satu pemahaman sederhana, bahwa bencana tidak pernah hanya berlangsung di alam. Letusan gunung memang terjadi di puncak Sinabung, tetapi dampaknya masuk ke rumah-rumah, ke ladang, ke sekolah, ke tempat ibadah, ke warung kopi, dan ke seluruh percakapan masyarakat. Orang tidak hanya menghadapi debu vulkanik, awan panas, atau pengungsian, tetapi juga harus menghadapi pertanyaanpertanyaan yang lebih dalam: mengapa ini terjadi, bagaimana harus memaknainya, bagaimana hidup harus diteruskan, dan apa yang harus dilakukan ketika keadaan normal yang selama ini mereka kenal tidak lagi utuh. Karena itu, buku ini tidak hanya berbicara tentang erupsi sebagai peristiwa alam, tetapi juga tentang erupsi sebagai pengalaman sosial dan komunikasi.
Unduh untuk perangkat lain: