Aku dari tadi hanya termenung menatap secarik kertas kosong dan sebuah bolpoin di depanku, ditemani suara kerbau yang melenguh tak henti-hentinya. Aku terdiam memikirkan jawaban yang cocok untuk mengisi PR esai yang diberikan oleh Pak Mir siang tadi. Beliau menyuruh kami untuk menuliskan cita-cita yang kami impikan kelak ketika dewasa. Memang, sekilas ini adalah PR yang sangat sederhana, Fatih saja bisa menjawabnya dengan baik. Namun aku sadar bahwa ternyata untuk menjawab satu pertanyaan ini, aku perlu menjalani ratusan ribu kali kejutan semesta yang tanpa kusadari telah membawaku kepada jawaban itu sendiri.
Unduh untuk perangkat lain: