Buku ini lahir dari kegelisahan akademik terhadap kecenderungan riset kontemporer yang semakin pragmatis dan instan, sementara akar tradisi keilmuan Islam yang berbasis studi kepustakaan justru mulai terpinggirkan. Padahal, sejarah mencatat bahwa peradaban Islam mencapai puncak kejayaannya melalui budaya literasi, penyalinan manuskrip, kritik teks, dan pengelolaan perpustakaan yang sistematis. Lembaga seperti Bayt al-Hikmah menjadi bukti bahwa perpustakaan bukan sekadar ruang penyimpanan buku, melainkan pusat produksi dan transformasi ilmu pengetahuan dunia. Dalam konteks pendidikan tinggi keagamaan Islam saat ini, studi kepustakaan sering dipahami secara teknis semata sekadar metode penelitian berbasis literatur. Buku ini berupaya merekonstruksi pemahaman tersebut dengan menempatkan studi kepustakaan sebagai tradisi epistemologis yang berakar pada tauhid, sanad keilmuan, dan integrasi wahyu serta akal. Dengan demikian, kajian literatur tidak hanya menjadi prosedur metodologis, tetapi juga menjadi praktik intelektual yang sarat nilai, etika, dan tanggung jawab ilmiah.
Unduh untuk perangkat lain: