Buku ini lahir dari kegelisahan sekaligus ketertarikan penulis terhadap dinamika koridor perdagangan di kampung kota yang tidak hanya berfungsi sebagai ruang ekonomi, tetapi juga sebagai ruang sosial dan budaya yang membentuk identitas tempat. Sekaligus buku ini menjadi rangkaian dari buku yang telah terbit sebelumnya dalam tematik ruang publik di permukiman kota. Di tengah perkembangan kota yang semakin cepat, koridor kampung menyimpan potensi besar sebagai ruang kreatif berbasis komunitas yang mampu memperkuat karakter lokal sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga. Buku ini berupaya menguraikan hubungan antara aktivitas perdagangan, kreativitas masyarakat, dan pengalaman ruang dalam membangun destinasi wisata alternatif yang autentik. Melalui pendekatan sosial-spasial, pembaca diajak memahami bahwa keberhasilan kampung wisata kreatif tidak semata ditentukan oleh infrastruktur fisik, tetapi oleh partisipasi warga, narasi lokal, dan keberlanjutan nilai budaya yang hidup di dalamnya. Harapannya, buku ini dapat menjadi referensi bagi akademisi, perencana kota, pemerintah, dan komunitas dalam mengembangkan koridor belanja yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan.
### KORIDOR BELANJA SEBAGAI DESTINASI KAMPUNG WISATA KREATIF Dengan kegelisahan dan ketertarikan terhadap dinamika koridor perdagangan di kampung kota, penulis Dr. Ima Rahmawati Sushanti, S.T., M.M.T., merangkai penelitian yang mendalam menjadi buku ini. Buku Koridor Belanja sebagai Destinasi Kampung Wisata Kreatif tidak hanya menggali fungsi koridor sebagai ruang ekonomi, tetapi juga sebagai ruang sosial dan budaya yang membentuk identitas tempat. Penelitian ini merupakan rangkaian dari serangkaian buku sebelumnya dalam tema ruang publik di permukiman kota. Di tengah perkembangan kota yang semakin cepat, buku ini menunjukkan bahwa koridor kampung menyimpan potensi besar sebagai destinasi wisata kreatif yang autentik. Pembaca akan diajak untuk memahami hubungan antara aktivitas perdagangan, kreativitas masyarakat, dan pengalaman ruang dalam membangun destinasi wisata alternatif. Pendekatan sosial-spasial digunakan untuk menunjukkan bahwa keberhasilan kampung wisata kreatif tidak semata ditentukan oleh infrastruktur fisik, tetapi oleh partisipasi warga, narasi lokal, dan keberlanjutan nilai budaya yang hidup di dalamnya. Harapan penulis adalah buku ini dapat menjadi referensi bagi akademisi, perencana kota, pemerintah, dan komunitas dalam mengembangkan koridor belanja yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan. Semoga buku ini dapat memperkaya diskusi tentang kampung kota dan mendorong lahirnya praktik pengembangan ruang yang lebih peka terhadap identitas dan kehidupan komunitas.
Unduh untuk perangkat lain: