Buku ini berangkat dari kesadaran bahwa pendidikan dewasa ini berada pada sebuah persimpangan sejarah. Dunia mengalami percepatan perubahan yang belum pernah terjadi sebelumnya—ditandai oleh disrupsi teknologi digital dan kecerdasan buatan, krisis ekologis global, dinamika geopolitik yang tidak stabil, serta pergeseran nilai-nilai sosial dan kemanu siaan. Sementara itu, sistem pendidikan formal di banyak konteks masih beroperasi dengan logika dunia lama: linear, mekanistik, terfragmentasi, dan berorientasi pada kontrol serta standarisasi. Ketegangan antara realitas global yang kompleks dan sistem pendidikan yang relatif kaku inilah yang menjadi benang merah refleksi kritis dalam buku ini.
### Buku "Evolusi Paradigma Pendidikan Dari Pembelajaran Transmisif, Melewati Student-Centered Learning, Menuju Transformasi Manusia di Era Kompleksitas" merupakan sebuah ikhtiar intelektual yang penting, relevan, dan tepat waktu bagi para akademisi, praktisi pendidikan, pemerhati kebijakan, dan siapa pun yang memiliki kepedulian terhadap arah masa depan pendidikan. Buku ini berangkat dari kesadaran bahwa pendidikan dewasa ini berada pada persimpangan sejarah di mana dunia mengalami percepatan perubahan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Buku ini secara mendalam mengulas paradigma pendidikan transmisif yang berakar pada logika industrial, di mana sekolah dipahami sebagai institusi produksi pengetahuan, kurikulum dirancang sebagai sistem input–proses–output, dan guru berperan sebagai otoritas utama. Paradigma ini pernah memainkan peran historis penting dalam pembangunan masyarakat modern, tetapi buku ini menunjukkan dengan argumentasi yang kokoh bahwa dalam dunia yang bercirikan ketidakpastian, kompleksitas, dan saling keterhubungan, pendekatan transmisif–mekanistik semakin menunjukkan keterbatasannya dalam mengembangkan kreativitas, daya refleksi, dan kemanusiaan peserta didik. Kritik terhadap pendidikan lama dalam buku ini tidak bersifat simplistik ataupun ahistoris. Sebaliknya, pembaca diajak memahami bahwa ketertinggalan sekolah dari perubahan zaman bukan terutama disebabkan oleh kelemahan individu pendidik, melainkan oleh desain sistemik pendidikan. Dalam praktiknya, paradigma ini kerap direduksi menjadi sekadar teknik atau prosedur pembelajaran, sementara sistem evaluasi, struktur kurikulum, dan budaya institusional masih beroperasi dengan logika lama. Akibatnya, student-centered learning sering kali belum mampu menjawab tantangan dunia nyata yang sarat dilema etis, kompleksitas sosial, dan persoalan lintas disiplin. Kesadaran akan keterbatasan tersebut mengantarkan buku ini pada fase ketiga, yakni pendidikan masa depan yang berorientasi pada pembelajaran transformatif. Pada tahap ini, pendidikan tidak lagi dipahami semata-mata sebagai proses penguasaan kompetensi atau peningkatan performa akademik, melainkan sebagai ruang pembentukan kesadaran manusia. Transformasi pendidikan dipahami sebagai transformasi cara manusia memaknai diri, dunia, dan relasinya dengan sesama serta alam.
Unduh untuk perangkat lain: