Tulisan-tulisan yang terkumpul di buku ini bermula dari perjalanan sehari-hari seorang ASN yang di sela tugas dan tanggung jawabnya tidak pernah berhenti melihat: kampung yang tidak ada di Google Map, pustakawan yang menunggu enam belas tahun untuk dilantik, wajah guru yang dituduh lalu dibebaskan dan kembali mengajar dengan cara yang sama seperti sebelum semua itu terjadi, hingga orang Italia yang kesepian di lobi hotel bintang lima Jakarta karena tidak ada yang bisa diajak bicara. Penulis bukan jurnalis profesional. Ia tidak punya latar belakang sastra yang panjang. Yang ia punya hanyalah waktu-waktu di antara pekerjaan, kemauan untuk mencatat, dan keyakinan bahwa setiap peristiwa kecil menyimpan pelajaran yang besar. Keyakinan itu yang membuatnya terus menulis, meski terkadang hanya di sudut ruang tunggu bandara, di dalam bus yang sedang berjalan, atau di kamar hotel di kota yang belum pernah dikunjungi sebelumnya. Negeri kita penuh dengan cerita yang layak didengar. Bukan hanya cerita yang ramai di media sosial atau yang masuk halaman utama portal berita. Tapi cerita-cerita kecil dari sudut-sudut yang jarang dijangkau kamera, dari mulut orang-orang yang tidak punya pengikut jutaan, dari kehidupan sehari-hari yang berlangsung sunyi dan terus-menerus. Cerita-cerita itulah yang membuat penulis percaya bahwa Indonesia baik-baik saja. Atau paling tidak, sedang berusaha untuk baik-baik saja. Dan itu sudah cukup untuk membuatnya terus menulis.
### Buku ini berjudul "Negeri di Antara Cerita" dan merupakan kumpulan tulisan yang mencerminkan perjalanan penulis, Abdul Kadir Sambolangi, dalam memahami dan merenungkan tentang birokrasi dan tata kelola pemerintahan di Indonesia. Dibagi menjadi lima bagian, buku ini mencakup catatan perjalanan, inspirasi daerah, opini, kritik sosial, dan resensi. Bagian pertama menggambarkan perjalanannya melalui berbagai daerah, mulai dari Paser hingga Sulawesi Tenggara, dan dari Malang hingga kampung-kampung yang masih berjalan di atas tanah berlumpur. Bagian kedua adalah catatan perjalanan penulis, mencerminkan kehidupan di berbagai daerah dan pengetahuan tentang daerah-daerah di Indonesia. Bagian ketiga berisi esai tentang hal-hal yang sering kita lihat tapi jarang dibicarakan dengan jujur. Bagian keempat adalah cerpen dan prosa, memberikan ruang kepada tokoh-tokoh yang hidup di kepala penulis. Terakhir, bagian kelima mencakup catatan tentang sepakbola, film, dan budaya populer, yang menyimpan kedalaman jika kita mau membacanya dengan sabar. Semoga kumpulan tulisan ini menjadi inspirasi bagi kita semua, terutama bagi masyarakat Kabupaten Paser dan pencinta karya sastra tulis.
Unduh untuk perangkat lain: