Buku ini mengajak pembaca untuk meninjau ulang praktik pembelajaran bahasa Inggris di kelas, dengan menyoroti kesenjangan antara aktivitas mengajar guru dan proses belajar siswa. Penulis mengkritisi model pengajaran tradisional yang cenderung bersifat satu arah, di mana guru aktif menyampaikan materi sementara siswa pasif menerima. Buku ini memperkenalkan Pedagogi Dialogis sebagai pendekatan alternatif yang menempatkan dialog dan interaksi bermakna sebagai inti pembelajaran. Dengan mengintegrasikan teori, riset, dan pengalaman praktis, buku ini menunjukkan bahwa pembelajaran bahasa Inggris tidak cukup hanya dengan penguasaan kosakata dan tata bahasa, melainkan perlu memberi ruang bagi siswa untuk berpikir kritis, bertanya, memberi alasan, dan membangun pemahaman bersama melalui percakapan yang produktif. Buku ini dibagi ke dalam bab-bab yang sistematis, mulai dari konsep dasar Pedagogi Dialogis, strategi praktis menciptakan dialog di kelas, cara melatih siswa berdiskusi, hingga tantangan dan solusi yang mungkin dihadapi guru. Dilengkapi dengan contoh kegiatan, pertanyaan refleksi, rubrik evaluasi, dan catatan riset, buku ini menjadi panduan yang aplikatif bagi para pendidik. Penulis juga menekankan pentingnya refleksi guru terhadap praktik mengajarnya sendiri dan mengajak pembaca untuk melihat dialog sebagai perjalanan panjang menuju pembelajaran yang lebih manusiawi. Buku ini diakhiri dengan ajakan bahwa percakapan yang baik adalah cara alami manusia untuk belajar, sehingga mengajar bukan sekadar mentransfer pengetahuan, tetapi membangun hubungan, mendengar, dan menciptakan ruang aman bagi siswa untuk bertumbuh.
Buku "Ngobrol itu Belajar Perjalanan Reflektif Membangun Pedagogi Dialogis dalam Pendidikan Guru Bahasa Inggris" oleh Nina Wanda Cassandra berfokus pada pembaruan praktik pengajaran bahasa Inggris melalui pendekatan pedagogi dialogis. Buku ini mengawali dengan refleksi mendalam tentang keraguan utama meskipun guru mengajar dan siswa mendengarkan, pemahaman yang mendalam belum tentu terjadi. Dengan pandangan kritis, buku ini mempertanyakan dominasi suara guru dalam kelas dan mengusulkan reorientasi pedagogis yang lebih inklusif. Bab pertama mengajak pembaca untuk merenungkan mengapa proses mengajar tidak selalu berarti proses belajar. Bab kedua memaparkan konsep dan asas dasar pedagogi dialogis, yang didasarkan pada teori sosiokultural Vygotsky, pemikiran Bakhtin tentang dialogisme, dan kajian dialogic pedagogy. Penulis, yang telah menerapkan pendekatan ini sejak tahun 2022, membagikan pengalamannya, termasuk melalui self-study di kelas EFL daring, refleksi praktik mengajar, dialog dengan teman-teman kritis, dan kolaborasi dengan guru bahasa Inggris serta mahasiswa calon guru. Buku ini diharapkan dapat menjadi panduan bagi guru bahasa Inggris untuk merenovasi praktiknya, memfasilitasi percakapan kelas yang lebih berarti, dan mengembangkan pemahaman mendalam peserta didik.
Unduh untuk perangkat lain: