Dalam riuh revolusi 1945, saat bangsa ini baru menegakkan kemerdekaannya, berdirilah satu sosok teguh di jantung Tanah Kampar, yaitu Abdul Malik Yahya, pejuang yang lebih memilih berdiri di garis depan ketimbang bersembunyi di balik kemenangan orang lain. Pada 9 September 1945 di Air Tiris, ketika kabar Proklamasi baru saja sampai di teritorial Provinsi Riau, ia menjadi pelindung pengibaran Bendera Merah Putih pertama di wilayah Provinsi Riau, peristiwa yang mengguncang semangat rakyat. Sehari kemudian, 10 September 1945 di Bangkinang, di hadapan dua ribu rakyat dan ulama Muhammadiyah, ia kembali berdiri sebagai benteng keamanan pada Upacara Resmi Pertama Pengibaran Merah Putih di tanah Kampar. Dua hari bersejarah itu menjadi saksi keberanian seorang pejuang yang berikrar menjaga kehormatan republik, walau nyawa menjadi taruhannya. Bukan hanya pejuang fisik, Abdul Malik Yahya adalah sosok lintas zaman, seorang guru, pemimpin Muhammadiyah, dan pelayan masyarakat yang mengabdikan hidupnya di bidang sosial, budaya, dan pemerintahan. la adalah figur yang memayungi rakyat dalam badai penjajahan, sekaligus menuntun mereka menata kehidupan baru setelah kemerdekaan. Karena keteguhan, pengorbanan, dan semangat perlindungannya yang tak pernah padam, rakyat Kampar menjulukinya "Sang Perisai Kampar", seorang tameng yang menegakkan Merah Putih di masa genting, dan pelita yang menerangi generasi setelahnya.
Unduh untuk perangkat lain: