Dari sekian banyak orang yang menyimpan keprihatinan tersebut dalam hati, penulislah yang berani muncul ke permukaan menyuarakan hal tersebut. Benar sekali, kesibukan bekerja cenderung membuat orang abai dalam melaksanakan ibadah, khususnya yang diangkat dalam buku ini adalah salat. Tanpa bermaksud mengesampingkan ibadah-ibadah lainnya, faktanya salat adalah ibadah yang pertama kali dihisab oleh Allah Swt dan kualitas salatlah yang menjadi penentu kualitas diri seorang muslim. Membaca buku ini, ibarat kita disuguhi menu baru literasi yang menggugah selera intelektual. Penulis berhasil mengangkat sebuah topik dengan pendekatan kepenulisan yang unik. Pemilihan judul yang terkesan menyeramkan justru tidak membuat pembaca takut untuk membuka lembar demi lembar isi buku ini. Sampul dan tata letak yang menarik namun penuh makna membuat pembaca penasaran dan ingin terus menggali isi buku ini. Jika jeli, Anda akan menemukan hal yang berbeda dalam urutan bagian dan bab. Ya, namanya juga antrean? Dari kebanyakan buku yang kesannya "Ah, teori!", di akhir isi buku ini pembaca bisa berkata, "Aha, ini dia!" Penulis juga berhasil menghindari jebakan doktrin-doktrin keagamaan yang sering membuat topik seperti ini terasa berat. Sebaliknya, mereka mengimbanginya dengan sudut pandang manajemen sumber daya manusia, menjadikan dikotomi antara sibuk bekerja dan beribadah sebagai harmoni yang saling menguatkan. Fakta bahwa bekerja dan beribadah tidak bertentangan, justru saling mendukung, ditampilkan dengan jelas. Penulis tidak hanya menyalahkan, tetapi juga membela dengan sejumlah solusi yang ditawarkan.
Unduh untuk perangkat lain: