Geger Pacinan – Chinezenmoord: Krisis Legitimasi, Pembantaian Batavia, dan Api Perang Cina di Tanah Jawa merangkum sebuah momen apokaliptik yang mengungkapkan kerapuhan indirect rule Belanda. Peristiwa tahun 1740 bukanlah letusan kekerasan yang tiba-tiba, melainkan konsekuensi logis dari krisis legitimasi ganda yang telah lama menghinggapi sistem kolonial. Di satu sisi, VOC menciptakan eksploitasi ekonomi yang luar biasa melalui monopoli candu dan pachtstelsel yang dikendalikan oleh Kapitan Cina. Di sisi lain, kebijakan diskriminatif kolonial, terutama pembatasan migrasi dan pengusiran dari perkebunan tebu, menciptakan kelompok besar Tionghoa miskin dan pengangguran yang terasing dari sumber daya. Ketegangan ini mencapai titik didih karena kegagalan fungsional otoritas Kapitan Cina (Hoofden der Chinezen). Kapitan, yang seharusnya bertindak sebagai mediator dan pelindung, justru secara ekonomi terikat pada sistem yang menindas. Elit Cabang Atas menolak berbagi kekayaan atau memobilisasi modal mereka untuk meringankan penderitaan massa Tionghoa yang diusir, sehingga menciptakan jurang yang lebar.
Buku ini mengisahkan peristiwa sejarah penting yang terjadi di Batavia pada abad ke-18, khususnya terkait dengan Geger Pacinan dan Pembantaian Batavia (Chinezenmoord) pada Oktober 1740. Penulis menjelaskan secara rinci tentang konteks sosio-ekonomi Batavia pada masa itu, termasuk peran dan kondisi Tionghoa dalam masyarakat kolonial. Buku ini membahas bagaimana sistem VOC yang eksploitatif dan kebijakan diskriminatif yang menindas menyebabkan ketidakpuasan dan konflik di kalangan Tionghoa. Hal ini mencapai puncaknya ketika Gubernur Jenderal Adriaan Valckenier mengeluarkan perintah represif yang akhirnya menjerumuskan komunitas Tionghoa ke dalam kehancuran melalui aksi kekerasan yang tidak terkendali. Penulis juga mendetailkan perjalanan dari krisis ke legitimitas ganda yang menghinggapi sistem kolonial, hingga akhirnya terjadi Geger Pacinan, yang bukan hanya perlawanan etnis, tetapi juga tantangan langsung terhadap hegemoni VOC. Buku ini menyoroti bagaimana peristiwa tersebut mempengaruhi arsitektur kolonial, memaksa Belanda untuk memperketat segregasi melalui wijkenstelsel yang lebih ketat, serta memicu reformasi birokrasi yang lambat. Akhirnya, buku ini menegaskan bahwa kekuasaan yang berbasis pada eksploitasi tanpa katup pengaman akan selalu berujung pada kehancuran, dan biaya kedaulatan kolonial jauh melampaui perhitungan finansial yang pragmatis. singkat buku ini dapat dirangkum sebagai berikut --- Buku ini menggali sejarah Geger Pacinan dan Pembantaian Batavia pada tahun 1740, yang merupakan akibat dari konflik sosio-ekonomi di Batavia pada abad ke-18. Buku ini memaparkan bagaimana sistem VOC dan kebijakan diskriminatif yang menindas menciptakan ketidakpuasan di kalangan Tionghoa, yang kemudian mencapai puncak dalam peristiwa Geger Pacinan. Peristiwa ini tidak hanya menjadi perlawanan etnis, tetapi juga tantangan langsung terhadap hegemoni VOC. Buku ini juga menunjukkan dampak konstruktif dari peristiwa tersebut, seperti perubahan arsitektur kolonial dan reformasi birokrasi, serta mengingatkan bahwa kekuasaan yang berbasis eksploitasi tanpa katup pengaman akan berujung pada kehancuran.
Unduh untuk perangkat lain: