Jabatan Kapitan Cina (Kapitein der Chinezen)—sebuah gelar yang secara harfiah melambangkan elit yang dibangun dan dihancurkan—memulai riwayatnya dalam mekanisme ko-opsi pra-kolonial yang pragmatis. Sebelum Eropa mendominasi, para penguasa lokal di Nusantara telah lama mendelegasikan otoritas kepada pemimpin etnis Tionghoa untuk mengatur komunitas imigran dan perdagangan mereka, sebuah praktik yang diwarisi oleh VOC. Belanda, yang enggan menanamkan modal birokrasi yang besar, secara cerdas mengambil alih struktur selfgovernance ini. Mereka menunjuk Kapitan sebagai agen kunci dalam pemerintahan tidak langsung (indirect rule), memberikan mereka yurisdiksi eksekutif dan yudikatif untuk menjaga ketertiban, mengelola Pecinan, dan, yang terpenting, menjamin loyalitas komunal. Fungsi Kapitan kemudian mengalami transformasi fungsional yang intensif dan sinergis dengan kebutuhan imperial. Jabatan tersebut dilembagakan menjadi hierarki Hoofden der Chinezen (Majoor, Kapitein, Luitenant), yang secara kolektif didominasi oleh oligarki Cabang Atas—keturunan Tionghoa-Peranakan yang kaya raya. Fungsi Kapitan bergeser dari sekadar pengumpul iuran menjadi arsitek fiskal kolonial.
### Buku ini menggali sejarah dan dinamika kekuasaan Kapitan Cina, elit Tionghoa yang dipilih oleh penjajah Belanda untuk mengatur komunitas imigran dan perdagangan di Nusantara. Mulai dari pertumbuhan dan peran awal Kapitan sebagai agen pemerintahan tidak langsung, hingga runtuhnya kekuasaannya akibat berbagai faktor, buku ini menggambarkan perjalanan kompleks dari asimilasi, otonomi, hingga negosiasi identitas di dalam sistem kolonial. Transformasi struktural dan ideologi modernisasi birokrasi yang dipicu oleh Politik Etis mengancam eksistensi Kapitanat. Belanda secara bertahap menghapus Sistem Pacht dan menggantinya dengan pemungutan pajak langsung, memicu konflik internal di antara Totok terpelajar dan kelas menengah yang menolak peran Kapitan sebagai simbol kolaborasi. Kekuatan pasif dan perlawanan masyarakat Tionghoa biasa melawan otoritas Kapitan dalam Geger Pecinan 1740 menunjukkan puncak dan akhir dari periode kekuasaan mereka. Pada akhirnya, runtuhnya struktur Bestuur over de Vreemde Oosterlingen akibat Invasi Jepang pada 1942 dan kematian Khouw Kim An pada 1945 mengakhiri babak sejarah Kapitanat, menandai akhir dari era kolonial dan peran mereka dalam menjaga kepentingan komunal dan ekonomi.
Unduh untuk perangkat lain: