“Di antara bentuk kelembutan kasih Allah padamu adalah memperlihatkan aib dirimu sendiri kepadamu tetapi menutupinya dari mata orang lain.” ~ Ibn ‘Athaillah Al-Sakandari *** Kenestapaan tampaknya akan semakin membayangi hidup manusia. Kerontangnya spiritual, dengan begitu, akan semakin gersang. Zaman yang semakin materialistis pun berpengaruh pada jiwa-jiwa yang haus akan ketenaran, kemewahan, dan kemegahan. Di saat itulah kebijaksanaan ditinggalkan. Ketika kebijaksanaan ditinggalkan, manusia modern pun semakin lalai akan dirinya sendiri. Ia justru lupa terhadap dirinya sendiri padahal di zaman ini ia mencari eksistensi dirinya sendiri. Ibarat mengejar matahari, ia tak akan pernah sampai meskipun merasakan teriknya. Ada saatnya kita sebagai manusia itu harus berhenti sejenak dari keriuhan dunia untuk membasahi jiwa kita yang begitu kering. Hendaklah kita meluangkan waktu kita untuk sekadar merenungi diri sendiri agar kita senantiasa sadar diri tentang di mana keberadaan kita, sejauh mana keberadaan kita, bagaimana dengan keberadaan kita, dan akan ke mana keberadaan kita.
singkat buku ini dapat disajikan sebagai berikut "Dalam rangka memperdalam iman, membersihkan hati, dan memperkuat ikatan dengan Sang Maha Cinta, buku ini menghadirkan pesan-pesan spiritual dari hikmah-hikmah Ibn 'Athaillah Al-Sakandari. Sebagai tokoh sufi besar dari Mesir, Ibn 'Athaillah dikenal karena kedalaman hikmah dan ketulusan jiwa. Buku ini tidak hanya mengajak kita untuk berhenti sejenak mengambil napas, membasuh muka, dan melihat ke dalam diri, tetapi juga memberikan jalan untuk memahami dan merenungkan pesan-pesan spiritual dari hikmah-hikmah tersebut. Dengan menyertakan alasan mendalam dan penjelasan yang jelas, buku ini diharapkan dapat membasahi kerontangan spiritualitas kita dalam dunia yang semakin riuh dengan kegelisahan, kekosongan makna, dan ketergesaan hidup." ini dirancang untuk mencerminkan isi buku yang diberikan, sambil menghormati konteks dan sumber asli.
Unduh untuk perangkat lain: