Cerita Gen Z ini lahir dari keprihatinan sekaligus harapan. Di dalamnya terdapat 10 cerita yang ditulis oleh para penulis berbeda tetapi memiliki benang merah yang sama: menggambarkan dunia batin anak-anak pada era digital, dengan warna-warninya, tantangan, kebahagiaan, dan pergumulan mereka. Kisah Sarah yang memendam kesedihan, Jojo yang tenggelam dalam game, Callysta yang takut bersosialisasi, Peter yang jatuh karena kesombongan digital, Berly yang terbentuk oleh tontonan instan, hingga Alfa yang menemukan kembali sukacita tanpa internet. Melalui 10 cerita tersebut kamu akan melihat pengaruh gawai pada sikap dan perilaku seseorang. Menggunakan gawai itu boleh. Mengenal dunia digital itu perlu. Namun, kita perlu aturan dan batasan agar kita tetap sehat fisik dan sehat mental. Selamat membaca!
### --- Dunia anak-anak di era digital adalah jendela baru yang penuh tantangan dan peluang. "Gen-Z Warna-Warni Hatiku" menggambarkan perjalanan sepuluh anak di dunia yang diterpa informasi dan hiburan tanpa henti, di mana gadget bukan hanya alat belajar tetapi juga pintu tekanan emosi. Dalam setiap cerita, kita menyaksikan pertumbuhan emosional dan intelektual mereka, mulai dari Sarah yang memendam kesedihan hingga Alfa yang menemukan kembali sukacita tanpa internet. Buku ini mengajak para pembaca—yang terdiri dari anak-anak, guru, dan orang tua—untuk menggunakan teknologi dengan sehat dan bijak. Melalui kisah-kisah yang penuh warna, kita diajak untuk memahami pentingnya pendampingan, keteladanan, dan ruang aman dalam mengembangkan keterampilan meregulasi emosi, kerendahan hati, dan keberanian. Gen-Z Warna-Warni Hatiku tidak hanya menunjukkan masalah, tetapi juga memberikan solusi bagi generasi digital masa kini. --- Sajian sinopsis singkat ini mencakup inti dari buku tersebut, mencerminkan berbagai cerita dan pesan utama yang disampaikan.
Unduh untuk perangkat lain: