Sayap Patah Jibril adalah novel yang mengisahkan pergulatan dua jiwa yang terpinggirkan—Jalal, seorang pemabuk tua yang kehilangan segalanya, dan Lila, seorang perempuan yang letih menjadi jelmaan hasrat laki-laki. Dalam gelap kehidupan yang mereka jalani, keduanya perlahan menjadi cahaya kesadaran yang membakar. Di tengah desa yang tenggelam dalam kemunafikan dan kerakusan, Jalal bangkit dari saksi bisu menjadi suara lantang yang menyeru kebenaran. Sementara Lila, dengan luka yang ditutupi senyum, tampil sebagai wajah keberanian yang tak pernah padam. Tuhan mengutus Jibril membawa bisikan kebenaran dalam hati manusia. Namun di hadapan cahaya itu, terbukalah tabir kerakusan—manusia yang bukan saja saling memangsa, melainkan juga merobek tubuh bumi, menelanjangi hutan, menajiskan sungai, dan menggadaikan tanah pusaka demi laba yang fana. Di balik do’a yang menjelma topeng dan moral yang membusuk dalam kepura-puraan, manusia memilih buta. Di tengah kekacauan itu, Jibril hadir bukan sebagai malaikat bersayap cahaya, melainkan bisikan kesadaran yang menuntun Jalal dan Lila menjadi alat ilahi untuk menggugah umat dari tidur panjang kemunafikan. Namun setiap sentuhan ke dunia fana selalu meninggalkan luka—bahkan bagi utusan langit. Maka Jibril pun kembali, bukan dalam kemenangan, melainkan dalam sunyi, dengan sayap yang telah patah.
"Sayap Patah Jibril" oleh Hendrawansyah Buku "Sayap Patah Jibril" menelusuri perjalanan Jibril, malaikat yang pernah membawa firman Tuhan, dan dua jiwa yang berjuang dalam kehidupan yang suram Jalal, pemabuk tua yang kehilangan arah, dan Lila, pelacur yang sudah letih menjadi jelmaan hasrat laki-laki. Setelah ribuan tahun tanpa pesan dari Tuhan, Jibril kembali ke bumi, bukan dalam kemenangan, tetapi dalam sunyi, dengan sayap yang telah patah. Melalui bisikan kesadaran, Jibril membantu Jalal dan Lila membangkitkan cahaya kesadaran dalam hidup mereka. Di tengah kekacauan moral dan lingkungan yang menajiskan, Jibril, Jalal, dan Lila tetap menegur dan mengingatkan umat agar tidak terjebak dalam ketamakan dan kebodohan. Mereka menjadi alat ilahi untuk menggugah umat dari tidur panjang kemunafikan, meski setiap sentuhan ke dunia fana selalu meninggalkan luka, bahkan bagi utusan langit. Dalam harta bumi yang patah dan hati yang patah, mereka menemukan semburat keberanian dan kesadaran baru.
Unduh untuk perangkat lain: