Pencemaran lingkungan perairan oleh logam berat merupakan salah satu tantangan ekologis paling krusial di era industri modern karena sifat polutannya yang toksik, persisten, dan akumulatif dalam jaringan biologis. Buku monograf ini menyajikan kajian mendalam mengenai inovasi teknologi "hijau" melalui pemanfaatan biomassa serasah galam (Melaleuca leucadendra) sebagai agen biosorpsi yang efektif, ekonomis, dan berkelanjutan untuk mereduksi kontaminasi logam berat di dalam air limbah. Fokus utama kajian ini diarahkan pada optimalisasi potensi lokal lahan basah Kalimantan, di mana serasah galam yang melimpah ditransformasikan dari limbah organik yang berisiko memicu kebakaran lahan menjadi material penyerap (biosorben) bernilai tinggi melalui teknik rekayasa imobilisasi pada matriks silika gel. Proses pengembangan biosorben diawali dengan tahap demineralisasi biomassa menggunakan asam encer untuk mengaktifkan situs-situs pengikatan pada dinding sel tumbuhan, diikuti dengan pemerangkapan (entrapment) biomassa ke dalam struktur silika gel dengan rasio optimal 12,5% (b/b). Teknik imobilisasi ini terbukti secara signifikan meningkatkan stabilitas fisik, porositas, serta ketahanan kimiawi adsorben, sehingga sangat aplikatif untuk digunakan dalam sistem aliran kontinyu atau sistem kolom (fixed-bed column). Kajian ini mengevaluasi kinerja penjerapan terhadap empat logam target dengan karakteristik kimiawi yang berbeda, yaitu kadmium (Cd), kromium (Cr), timbal (Pb), dan tembaga (Cu). Hasil eksperimental menunjukkan bahwa efisiensi biosorpsi sangat bergantung pada parameter fisikokimia, terutama derajat keasaman (pH) dan laju alir larutan. Penjerapan logam kationik seperti Cd(II), Pb(II), dan Cu(II) mencapai titik optimal pada rentang pH 4 hingga 6, di mana terjadi interaksi elektrostatik yang kuat antara ion logam bermuatan positif dengan gugus fungsional aktif
Unduh untuk perangkat lain: