Pada tahun 2005, PDIP mengalami krisis internal yang signifikan, dimulai dengan ketidakpuasan terhadap kepemimpinan Megawati Soekarnoputri. Ketidakpuasan ini berpuncak pada Kongres II PDIP di Bali, di mana keputusan-keputusan yang diambil oleh Megawati dan timnya memicu gelombang protes dari sejumlah kader partai. Para kader ini kemudian membentuk Kubu Gerakan Pembaruan sebagai tandingan terhadap kepengurusan yang dipilih dalam kongres tersebut. Koleksi Tempo Publishing
### Buku ini menceritakan peristiwa internal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang menembus sektor politik dan organisasional di Indonesia. Melalui tajuk "Kubu Gerakan Pembaruan dalam PDIP," buku ini menggali dinamika perlawanan yang melibatkan Megawati Soekarnoputri, yang saat itu menjabat sebagai Ketua Umum PDIP, dengan kubu yang memprotes pemimpinannya. Megawati memberikan ultimatum kepada kubu pembaruan untuk memilih antara mengakhiri gugatan mereka atau menghadapi pemecatan dan recall. Meskipun ancaman tersebut, kubu pembaruan tetap gigih, baik melalui jalur hukum maupun dengan mendirikan struktur pengurus tandingan di beberapa daerah. Keputusan pemecatan terhadap beberapa tokoh dianggap sebagai tanda seriusnya krisis dalam partai. Tindakan kubu pembaruan juga mendapat dukungan dari beberapa kader yang merasa tersingkir. Sementara itu, permasalahan ini menciptakan ketegangan di internal PDIP dan menghasilkan lebih dari sekadar pertarungan antara kubu yang berbeda; itu juga merupakan bentuk resistensi terhadap kepemimpinan yang dinilai tidak efektif. Buku ini tidak hanya menyoroti permasalahan politik partai, tetapi juga menggambarkan upaya untuk memperbaiki struktur dan menjaga integritas partai di mata masyarakat.
Unduh untuk perangkat lain: